Soul said to me O you who have been busy by Fatamorgana world ..... What you want to search from the world ...? Look ... there is no person who look you Lights also are reluctant to brighten your Yourself yourselves in the morning Allah fed up with sin sin your megrim ............... You to worship Him But you also engage in immoral acts to him Are you sure your pray received by him? Do you believe in your repentance by His goodness? Cry yourself weeping with sorrow Throughout the life

Thursday, June 10, 2010

syair sufi

Ya Rob ampuni aku.....
Aku tak tau apa yang telah terjadi kepadaku...
Begitu hinakah diri ini di hadap Mu....
Hingga air mata ini menghiasi pipiku
Di malam malam yang hanya ada aku dan Engkau
Ya Robb.....
Yakinkan kepada hatiku
Akan saat saat yang indah yang tlah Kau janjikan kepadaku
Itu datang kepadaku, menyapaku, dan memelukku dalam takdir Mu
Yakinkan pada jiwa ini
Yang merindukan belaian kasih sayang dari seorang kekasih
Yakinkan bahwa saat saat yang indah itu
Saat kita berucap kalimat ijab Qobul
Dengan mengucapkan KebesaraanMU
Yang tlah menjadikan manusia itu berpasang pasangan
Ya Robb....tiada Tuhan yang patut hamba sembah
Selain Engkau Yaa Allah...
Dan tiada Tuhan yang patut hamba minta pertolongan
Selain Engkau yaa Allah..
Hari ini hamba bertawasul dengan menyebut Nama Nama Indah MU
Allahhu Yaa Rochman
Allahhu Yaa Rochim......

syair syair mahabbah

Untukmu yang slalu dalam khayalku
Andai engkau tau wahai engkau yang baik hatinya
Perasaanku padamu....kuingin jujur akan hal itu
Aku mencintaimu sebelum rama bertemu sinta
Aku mencintaimu sebelum mesir menemukan eloknya Alexandria
Aku mencintaimu sebelum air bermuara di lautan
Andai kau tau itu wahai bidadariku
Ku ingin kau juga cintai aku
Aku ingin jadikan dirimu kebiasaan
Ketika ku minum saat ku haus
Aku ingin kau jadi bintang
Di saat malamku penuh dengan kegelisahan
Aku ingin jadikan kau pelangi
Disaat senja ku tak berwarna
Aku ingin jadikan kau udara di pagi hari
Di kala aku butuh nafas cintamu
Cintai aku....
Wahai bidadariku...
Walau ku tak tau kau berada dimana
Tapi aura mu slalu ada dalam hatiku
Walau engkau adalah misteri bagiku
Namun namamu slalu ada dalam catatan kematianku
Ku ingin kau tau itu
Ku ingin sketsa hatimu di dalam hatiku
Dengan tinta darahku....
Agar kau tau betapa pentingnya
Dirimu dalam kehidupanku
Dan akhirnya ku berharap kau adalah tulang rusukku
Tapi kini kudengar kabar kau
Sepi hilang dalam malam
Hari harimu kini penuh dengan warna
Kehampaanmu menjadi nyata..
Dan aku hanya bisa melihat dari sini
Kebahagianmu bersamanya
Dan aku katakan..
Aku tak bisa luluhkan hatimu..
Dan kutakbisa merenggut cintamu

Friday, June 4, 2010

Humor sufi

Gerah Dengan Buku Yang Menggugat Sufi

Dengan sikap emosional dan gerah, Parto menentang beberapa buku yang menggugat dunia Tasawuf. Sudah bisa ditebak buku itu isinya pasti menghujat, menyesatkan dan menyampahkan tasawuf.

“Ini bagaimana kawan. Kita dihabisi dengan penuh kehinaan. Apa yang harus kita lakukan. Apa kita bakar buku-buku ini?”

Kawannya, Sugih namanya, yang diajak bicara tadi melihat satu persatu buku itu sambil senyum-senyum.

Parto: “Gih kamu kok malah tertawa-tawa seperti itu. Ini banyak orang bisa sesat membaca buku ini, dan mereka bisa anti terhadap ajaran tasawuf.”

Sugih: “Ngapain kamu gerah To, lha wong zamannya Ibnu Araby, zamannya Ibnu Athaillah saja, sudah dihujat oleh Ibnu Taymiyah yang begitu hebat. Tapi toh tak bergeming. Sedangkan buku-buku ini yang menulis kelas kambing saja, penulis pinggir jalan, seperti penjaja kacang goreng saja…”

Parto: “Tapi ini kan ada juga penulis dari Syeikh Saudi?”
Sugih: “Apalagi. Kan semakin jelas.”
Parto:“Jelas apanya mereka syeikh dan Ulama…”
Sugih: “Nah semakin jelas pula, dan semakin gembira kita…”
parto: “Saya nggak mudeng Gih, kenapa kamu begitu….?”
Sugih: “Lha iya. Alhamdulilllah tasawuf digugat. Itu justru akan membesarkan pohon Sufi kita, menjadi pupuk bagi keagungan dan kerindangan ajaran Nabi yang paling inti…”

Parto: “Kamu ini malah bikin aku pusing…”
Sugih: “Pohon itu besar karena pupuknya, rawatannya. Lebih baik kita pakai pupuk kandang anti pestisida. Kotoran-kotoran sapi itu lho…masak kamu nggak ngerti…”
Parto: “Aku nggak ngerti Gih…”

Sugih: “Anggap saja mereka itu, ucapan mereka, ulasan mereka tu, kotoran yang menjadi pupuk bagi kita. Jangan dibuang. Biarkan saja. Lha wong para Nabi dan para wali dulu musuhnya orang-orang munafik, orang-orang zalim, orang-orang fasiq, nah, kIta belajar dan bercermin saja di sana. Nggak usah pusing-pusing lah, malah alhamdulillah…”

Parto hanya geleng kepala sambil menghela nafas panjangnya.
“Jadi nggak perlu di counter Gih?”

Sugih: “Di counter sambil guyon, dan ditunggu sambil tidur saja…” (www.sufinews.com)

Memadu Cinta

Judul: Memadu Cinta Di Taman Islam
KEDUDUKAN CINTA

Umat secara keseluruhan sepakat bahwa cinta pada Allah dan Rasul-Nya adalah wajib. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan maqam tertinggi dari berbagai maqam yang ingin dicapai oleh para pengembara menuju Allah. Semua maqam yang ingin diraih adalah buah dari cinta kepada Allah.

Dasar cinta seorang hamba kepada Allah adalah firman-Nya:

��Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah�� (Almaidah:54)
��adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah�� (Albaqarah:165)

�katakanlah, jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, serta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiaannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang fasik (At-Taubah:24)

Islam tidak menafikan adanya perasaan saling mencintai antara sesama manusia, sebab hal itu merupakan fitrah manusia. Secara naluri ia mencintai istri, keluarga, harta dan tempat tinggalnya. Namun, tidak sepatutnya sesuatu yang bersifat duniawi ini lebih ia cenderungi dan ia cintai dibanding Allah dan Rasul-Nya. Jika ia lebih mencintainya, maka berarti tidak sempurna imannya dan dapat terjerumus pada dosa terbesar yakni musyrik. Mencintai Allah dan Rasulnya merupakan jalan menuju keselamatan. Dalam sebuah hadits dikatakan:

�Tatkala seseorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang hari kiamat, beliau menjawab dengan sebuah pertanyaan, 'Apa yang sudah engkau persiapkan untuknya?' orang itu menjawab 'tidak lain kecuali bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya'. Rasulullah Saw menjawab, 'Engkau beserta orang yang engkau cintai'. (H.R. Bukhari Muslim)
Cinta yang tulus adalah keimanan yang benar

Cinta hamba kepada Allah merupakan hal yang bisa mengangkatnya ke maqam dan derajat yang tinggi, sempurna, dan suci. Kedudukan yang tinggi ini menuntut sang hamba untuk berkorban demi kekasihnya, sebagaimana yang berlaku pada setiap orang yang mencinta. Sang pecinta harus rela mencintai objek cintanya dengan sepenuh hati dan fikiran. Ia harus sanggup berkorban demi yang dicintai dengan penuh suka cita. Ia juga harus lapang dada dan rela atas segala yang kurang berkenan dirasakan dari kekasihnya, juga harus sabar atas segala ujian yang menimpanya karena cinta itu.

Mengapa demikian, karena cinta, sebagaimana yang lazimnya terjalin antara sesama manusia, merupakan sebuah jalinan di luar nalar dan pengetahuan. Ia merupakan kecenderungan dan emosi yang berada di atas kehendak dan keinginan.

Setiap diri kita bisa saja mengenal dan tidak ada masalah dengan si Fulan, atau mengetahui dan senang dengan suatu benda, akan tetapi itu saja tidak cukup untuk menamai perasaan kita itu sebagai cinta. Perasaan cinta lebih dalam pengaruhnya dari itu. Ia lebih mengharu biru dan merampas hati. Bahkan cinta sejati adalah yang tidak memberikan ruang kosong dalam hati., tidak memberi jalan sedikitpun dalam jiwa bagi yang lain selain kekasih.

Jika telah sampai pada tingkat demikian, maka cinta kepada Allah itulah keimanan yang hakiki. Keimanan yang hakiki bukanlah sekedar pengetahuan dan ketundukan jiwa. Dengan kata lain, iman yang benar adalah imannya sang pencinta yang bergairah kepada Allah, yang bahkan bisa memabukkan dan melupakan diri sendiri. Cinta yang pengaruhnya tampak pada seluruh ucapan, tindakan dan sikap.

Adapun keimanan yang gersang, yang dingin dan pasif, yang tidak melampaui sekedar ketundukan jiwa dan pernyataan lisan, tidak pula tampak pengaruhnya pada aktivitas yang positif, maka itu bukanlah keimanan yang dikehendaki Allah dari hamba-Nya.

Seorang mukmin yang hakiki adalah orang yang memahami keindahan dan keagungan Allah, mengetahui kasih sayang dan kebaikan Allah. Disamping itu, ia meyakini sepenuhnya bahwa Allahlah satu-satunya pemberi nikmat dan anugerah. Tiada nikmat kecuali bahwa Dialah sumbernya, tiada anugerah kecuali dari-Nya. Dengan kesadaran ruhani seperti inilah ia mencintai-Nya. Hatinya sibuk memikirkan-Nya. Seluruh aktivitasnya ditujukan kepada-Nya semata. Kelezatan yang ia rasakan hanya ada dalam ketaatan kepada segala perintah-Nya. Ia memiliki kesempatan untuk menunaikan tugas dari-Nya, dengan senang dan bahagia, damai hatinya dan tegap langkahnya. Jika sang kekasih yang dicintai berbuat baik kepadanya, diterimanya kebaikan itu dengan rasa syukur, baik dengan lisan, hati maupun perbuatan. Jika ia mendapati kesulitan dalam perjuangan mencapai ridha-Nya, ia tegar, berlapang dada, dan sabar tanpa keluh kesah dan perasaan kecewa.

Mengapa kita mencintai Allah?

Dengan sedikit renungan, kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa Allah SWT Dzat yang paling berhak untuk dicintai. Dia lebih patut menjadi labuhan hati dibanding orang tua, anak, bahkan diri sendiri.

Hal yang paling mudah difahami oleh akal fikiran, mengapa kita hanya patut mencintai-Nya adalah karena anugerah nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Kenikmatan yang seluruh manusia tenggelam di kedalaman samuderanya, yang mengiringi manusia dalam hirupan nafas dan detak jantungnya, yang menyertainya di setiap tempat dan waktu, yang bersama keluasan dan keabadiaannya semata bersumber dari Dzat Allah Swt.

Untuk mengingatkan hamba-hamba-Nya akan nikmat ini, Allah Swt berfirman: �Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan menghitungnya ��(An-Nahl:18)

Rasulullah Saw bersabda:

�Cintailah Allah karena nikmat yang dianugerahkan kepada kalian, cintailah aku karena cinta kalian kepada-Nya, dan cintailah ahlulbaitku karena cinta kalian padaku�. (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim).

Wahai sahabat, apakah patut dan masuk akal jika kita menikmati semua ciptaan-Nya, mulai dari cahaya, indahnya waktu pagi dan petang, harmoninya ciptaan seluruh mahluk nan menakjubkan, bumi dan langit yang bisa dimanfaatkan, sebagaimana firman-Nya, �� yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian��( Al-Baqarah:29)

Dan juga firman-Nya, �� dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin� , tetapi mengapa kita tidak menunaikan syukur dan tidak pula mengerti kadar nilainya?

Apakah tidak berpengaruh dalam hati kita, bagaimana luas nikmat-Nya dan bertebaran ihsan-Nya, yang kekuasaan-Nya menyilaukan orang yang memandang. Nikmat-Nya adalah keagungan yang tidak dapat diidentifikasi, ilmu yang tiada satu biji atompun di langit dan di bumi yang tidak terdeteksi, dan kearifan yang mencermatkan seluruh makhluk yang dicipta-Nya.

Maka berbahagialah orang yang mencium aroma keelokan-Nya dan mampu menangkap cahaya pancaran keindahan-Nya. Berbahagialah orang yang dapat meneguk anggur kenikmatan-Nya meski bercampuran. Memang, seringkali kita menangkap sesuatu namun tidak memahami substansinya. Seorang penyair bertutur:

Sesuatu yang sering memabukkan orang,
Adalah sesuatu yang disebutnya sebagai kecantikan,
Namun aku tiada pernah mengerti apakah itu

Sebagian ahli hikmah pernah berkata kepada para muridnya, �seluruh manusia sungguh merindukan Allah. Tahukah kalian mengapa demikian? Itu karena mereka merindukan kebajikan yang tiada batas, kesempurnaan yang tiada bertepi, keindahan yang tiada terukur. Semua hanyalah ada pada Allah SWT�.

Bukankah matahari, makhluk yang tampak paling menonjol, paling elok, dan paling hebat yang pernah engkau lihat, hanyalah pantulan dari cahaya-Nya?

Sungguh, pada matahari itu tersirat tanda-tanda keagungan, keindahan, keperkasaan, dan kehebatan penciptanya. Kita bisa membaca tanda-tanda keagungan itu di sana. Dengan itu semua kita bersimpuh dan bersujud.

Jika kita mencintai seseorang karena pemberian dan kebaikannya, karena akhlak dan sifat-sifat terpujinya, maka sungguh kita lebih patut mencintai sumber nikmat dan kemurahan itu.

Bahkan seandainya mereka telah mampu merasakan betapa nikmat cinta-Nya, maka mereka akan disibukkan perhatiannya oleh gejolak perasaan ini hingga menjadi pecinta yang menikmati asyiknya memadu kasih.

Mereka yang menjaga dan menghindarkan diri dari buaian syahwat dengan tujuan hanya mendekatkan diri pada Allah.

Wallohu A'lam Bishowab
Seseorang yang sedang belajar untuk mencintai-Nya


Insan Kamil KalimasadaJune 5, 2010 at 10:26am

Thursday, June 3, 2010

Hakekat kasih sayang

Adalah رسول الله SAW itu tertakjubkan oleh sayuran dan air yang mengalir. Tabi’at yang sehat itu terpenuhi, dengan kelezatan memandang kepada cahaya, bunga-bungaan dan burung-burung yang indah warnanya, ukiran yang bagus, yang bersesuaian bentuknya, sehingga manusia itu menjadi lega dari kegundahan dan kesusahan dengan memandang kepdanya. Tidak karena mencari keuntungan dibalik memandang itu.

Maka inilah sebab-sebab yang melezatkan, dan setiap yang melezatkan itu disukai. Setiap kebagusan dan kecantikan maka tidaklah terelepas mengetahuinya dari kelezatan. Dan tidak seorangpun menungkiri akan keadaan kecantikan itu disukai menurut tabi’at manusia.

Kalau sudah pasti bahwa الله SWT itu elok dan indah maka sudah pasti bahwa Dia itu dicintai oleh orang yang tersingkap baginya keelokan dan keagungan-Nya sebagaimana رسول الله SAW bersabda :

ان الله جميل يحب الجمال

Sesungguhnya الله itu indah dan mencintai keindahan.

Pokok ke empat mengenai penjelasan makna bagus dan olek.

Ketahuilah bahwa yang terpenjara di dalam khayalan dan perasaan yang sempit terkadang disangka bahwa yang demikian itu tiada arti bagi kebagusan dan keelokan selain oleh kesesuaian kejadian dan bentuk, kebagusan warna, keadaan putih yang bercampur dengan kemerahan, tegak semampai dan lain sebagainya dari apa yang disifatkan bagi kecantikan seorang insan.

Bahwa kebagusan yang mengerasi atas makhluk adalah kebagusan penglihatan, dan kebanyakan penolehan mereka kepada bentuk orang-orang. Lalu disangka bahwa apa yang tidak dilihat, tidak dikhayalkan, tidak berbentuk dan tidak berwarna itu adalah suatu yang dikira-kirakan (diumpamakan), sehingga tidak tergambarlah kebagusannya. Dan manakala tiada tergambar kebagusannya, niscaya tidaklah tergambar pada idrak-nya itu kelezatan lalu tidaklah ia dicintai.

Ini adalah kesalahan yang nyata. Bahwa kebagusan itu tidaklah terbatas pada yang di-idrak-kan oleh penglihatan dan oleh keserasian kejadian dan kecampuran putih dengan kemerahan. Bahwa kita mengatakan Ini tulisan bagus, ini suara bagus, ini kuda yang bagus. Bahkan kita mengatakan ini kain yang bagus, ini bejana tempat air yang bagus. Maka dimanakah makna kebagusan suara, tulisan dan lain sebagainya, jikalau tidaklah kebagusan itu hanya terbatas pada rupa ?

Sebagaimana diketahui bahwa mata itu merasa lezat dengan memandang pada tulisan yang bagus. Dan telinga merasa enak dengan mendengar bunyi-bunyian yang bagus lagi merdu. Tiada sesuatupun dari hal-hal yang di-idrak-kan (diketahui) melainkan itu terbagi menjadi : bagus dan buruk.

Maka apakah arti bagus yang bersekutu padanya hal-hal tersebut, maka tidak-boleh tidak untuk dibahas. Adapun pembahasan tersebut akan panjang dan tidak layak dengan ilmu muamalah itu berpanjang-panjang padanya. Oleh karena itu kami tegaskan dengan sebenarnya dan kami katakan bahwa segala sesuatu, mengenai indah dan bagusnya itu terletak pada adanya kesempurnaan yang layak yang memungkinkan baginya. Apabila semua kesempurnaannya yang bersifat mungkin itu dapat terwujud, maka adalah ia itu berada pada puncak keelokan. Dan kalau yang terwujud itu sebagian, maka kebagusan dan keelokannya itu menurut kadar yang terwujud saja.

Kuda yang bagus adalah kuda yang terkumpul padanya apa saja yang layak bagi kuda, dari keadaan dan bentuk, warna, kebagusan berlari, mudah menyerbu dan berlarian padanya. Tulisan yang baus adalah tulisan yang terkumpul padanya apa yang layak bagi tulisan dari kesesuaian bentuk huruf, seimbang dan lurus susunannya, dan bagus keteraturannya. Dan bagi setiap sesuatu memiliki kesempurnaan yang layak dengan dia. Maka insan belum tentu bagus dengan apa yang bagus bagi kuda. Tidaklah bagus tulisan dengan apa yang bagus bagi suara. Tidaklah bagus bejana-bejana dengan apa yang bagus pada kain. Begitu juga dengan barang-barang yang lain.

Jikalau anda mengatakan bahwa barang-barang tersebut walaupun tidak di-idrakkan semuanya dengan kebagusan melihat seperti suara dan rasa makanan maka sesungguhnya ia tidak terlepas dari idrak-nya panca indera kepadanya. Dan itu dirasa dengan panca indera. Dan tidaklah dimungkinkan kebagusan dan keelokan bagi yang dirasakan dengan panca indera. Dan tidak dimungkiri hasilnya kelezatan dengan idrak kebagusannya, hanya dimungkiri yang demiikian pada yang tidak di-idrak-kan dengan panca indera.

Ketahulah bahwa kebagusan dan keelokan itu terdapat pula pada apa yang tidak dirasa dengan panca indera. Karenanya dikatakan : ini tingkah laku yang baugs, ini perjalanan hidup yang bagus, ini akhlak yang bagus. Bahwa akhlak yang bagus itu dikehendaki oleh ilmu, akal, penjagaan diri (al-iffah), berani, taqwa, kemurahan hati, kepribadian, dan sifat-sifat kebajikan yang lain. Sesuatu dari sifat-sifat ini tidak dapat di-idrak-kan (dirasa) dengan panca indera akan tetapi dapat di idrak-kan (diketahui) dengan nur penglihatan mata hati yang bathiniyah. Semua sifat-sifat yang elok ini disukai. Orang yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut pasti dicintai secara tabi’at pada orang yang mengenal sifat-sifatnya.

Keadaannya memang seperti yang demikian, bahwa tabi’at-tabi’at itu dijadikan untuk mencintai nabi-nabi AS, untuk mencintai para sahabat RA, sedang mereka itu tidak pernah disaksikan. Bahkan mencintai orang-orang yang mempunyai (pendiri-pendiri) mazhab seperti as-Syafi’i, Hanafi, Malik dan lain sebgainya, sehingga kecintaan seseorang kepada pendiri mazhabnya melampaui batas cinta. Lalu yang demikian membuatnya mau membelanjakan hartanya untuk menolong mazhabnya dan mempertahankan mazhabnya. Dan ia mau menghadang bahaya dengan nyawanya untuk memerangi orang yang mencaci maki imamnya dan orang yang ditakutinya. Berapa banyak darah ditumpahkan untuk menolong orang-orang pendiri mazhab-mazhab. Semoga kiranya aku ketahui orang yang mencintai As-Syafi’i misalnya, maka mengapa ia (As-syafi’i) dicintainya padahal sekali-kali ia tidak pernah menyaksikan bentuknya. Dan jikalau disaksikannya mungkin ia tidak akan memandang kebagusan rupanya. Maka pandangan yang bagus yang membawanya kepada cinta yang bersangatan adalah karena bentuknya yang bathiniyah bukan karena bentuknya yang zahiriyah. Bahwasanya bentuknya yang zahiriyah itu telah bertukar menjadi tanah bersama tanah. Sesungguhnya ia mencintainya karena sifat-sifatnya yang bathiniyah dari agama, taqwa, banyak ilmu, meliputi pengetahuan agama, bangunnya untuk memfaedahkan ilmu syari’at dan pada menyiarkan kebajikan-kebajikan dalam alam duniawi.

Kitab Kasih Sayang

Adalah kitab ke enam dari rub’u yang menyelamatkan dari kitab Ihya Ulumuddin

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi الله yang membersihkan hati para wali-Nya dari berpaling kepada keelokan dunia dan kekayaannya. Kemudian Ia megikhlaskan hati mereka untuk berhenti di atas permadani kemuliaan-Nya. Kemudian Ia menjadi penerang bagi mereka dengan asma dan sifat-Nya sehingga menjadi cemerlang dengan nur ma’rifah-Nya. Kemudian Ia menyingkapkan bagi mereka dari keagungan-Nya sehingga terbakar dengan api kasih sayang-Nya. Kemudian Ia terhijab/terdinding dari padanya dengan hakikat keagungan-Nya sehingga hati para wali itu heran dalam lapangan luas keagunagan dan kebesaran-Nya.

Maka setiap kali hati para wali itu tergerak untuk memperhatikan hakikat keagungan niscaya akan diliputi kedahsyatan oleh berlumurannya debu pada akal dan mata hatinya. Dan setiap kali hati para wali itu berkeinginan berpaling dalam keadaan putus asa niscaya datang panggilan dari khemah keelokan :”Sabar hai yang berputus asa dari mencapai Al-Haq disebabkan kebodohan dan ketergesaannya”. Maka teruslah hati para wali itu diantara menolak dan menerima, menahan dan sampai, tenggelam di dalam lautan ma’rifah dan terbakar dengan api kasih sayang-Nya.

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, penutup para nabi-nabi dengan sempurna kenabiannya. Dan kepada keluarga dan sahabatnya, penghulu manusia dan imam-imamnya, panglima kebenaran dan yang menggenggamkannya. Anugerahilah dengan kesejahteraan yang banyak. Amma ba’d :

Sesungguhnya kasih sayang / mencintai الله adalah tujuan yang paling jauh dari maqam-maqam yang ingin dicapai dan ketinggian yang tertinggi dari derajat-derajat. Tidak ada sesuatu sesudah memperoleh kasih sayang, suatu maqampun lagi, selain berupa buah dari buah-buahnya dan ikutan dari pengikut-pengikutnya seperti maqam rindu, jinak hati, rida dan isfat-sifat lain yang searah dengan itu. Dan tidak ada satu maqampun sebelum maqam kasih sayang itu selain hanya lah merupakan pendahulu dari pendahulu-pendahulu maqam kasih sayang sperti sabar, taubat, zuhud dan lain-lain.

Maqam-maqam lain jikalau sukar adanya maka tidaklah kosong hati dari kemungkinannya. Adapaun mencintai الله Ta’ala, maka sulitlah keimanan dengan mencintai itu sehingga sebagian ulama memungkiri kemungkinannya dan mengatakan tidak ada makna baginya selain rajin mengerjakan ta’at kepada الله Ta’ala. Adapun hakikat kasih sayang/ mencintai maka itu mustahil, selain bersama sejenis dan simisal.

Wednesday, May 26, 2010

Hakikat Kasih sayang

Bahwa orang yang berbuat kebaikan itu ialah orang yang meenolong dengan harta, bantuan dan sebab-sebab lain yang menyampaikan kepada kekekalan terus adanya, kesempurnaan adanya dan keberhasilan keuntungan-keuntungan yang dengan itu tesedialah wujudnya. Hanya saja perbedaannya adalah : anggota tubuh manusia itu dicintakan karena dengannya terdapat kesempurnaan wujudnya, dan itu adalah kesempurnaan itu sendiri yang dicari.

Adapun orang yang berbuat al-ihsan (berbuat baik kepadanya) maka tidaklah ia itu diri kesempurnaan yang dicari akan tetapi terkadang sebagai sebab bagi kesempurnaan. Seperti tabib/dokter yang menjadi sebab pada kekekalan sehatnya anggota-anggota badan. Maka diperbedakan diantara cinta kepada kesehatan dan cinta kepada tabib yang menjadi sebab kesehatan. Karena kesehatan itu dicari bagi diri kesehatan itu, dan tabib dicintai tidak karena dirinya akan tetapi karena dia menjadi sebab bagi kesehatan.

Seperti demikian juga ilmu yang dicintai. Guru itu dicintai. Akan tetapi ilmu itu dicintai bagi ilmu itu sendiri. Dan guru itu dicintai karena adanya guru itu menjadi sebab bagi ilmu yang dicintai. Begitu pula makanaan dan minuman itu dicintai dan uang / emas itu dicintai. Akan tetapi makanan itu dicintai bagi makanan itu sendiri dan uang dinar/emas itu dicintai karena dia menjadi perantara (wasilah) kepada makanan.

Jadi kembalilah perbedaannya kepada berlebih kurangnya tingkat. Jikalau tidak, maka setiap satu itu kembali kepada kecintaan manusia kepada dirinya. Maka setiap orang yang mencintai orang yang berbuat baik / ihsan karena ke-ihsanan-nya, maka sesungguhnya ia tidak mencintai diri orang itu pada hakekatnya, akan tetapi ia mencintai ke-ihsanan-nya yaitu suatu perbuatan dari beberapa perbuatannya. Jikalau hilang (keihsanan) itu niscaya hilang pula kecintaan itu semenrata diri orang itu masih tetap pada keadaannya yang sebenarnya. Jikalau berkurang kebaikannya, niscaya berkurang pula kecintaannya. Dan jikalau bertambah, niscaya bertambah pula kecintaan. Berlaku padanya bertambah dan berkurang menurut bertambah dan berkurangnya ihsan.

Sebab ketiga, bahwa mencintai sesuatu itu dikarenakan diri sesuatu itu sendiri, bukan karena keuntungan yang diperoleh daripadanya dibalik sesuatu itu sendiri. Akan tetapi adalah dirinya itu menjadi kenuntungan itu sendiri. Dan itulah kecintaan yang hakiki yang sampai kepada yang dimaksud yang dipercayakan dengan kekekalannya.

Yang demikian itu seperti kecintaan kepada kecantikan dan kebagusan, bahwa kecantikan itu dicintai pada orang yang mengetahui akan kecantikan. Dan itu adalah karena kecintaan itu sendiri karena mengetahui akan kecantikan maka padanya itu kelezatan tersendiri, yang dicintai karena dirinya benda itu bukan karena lainnya.

Anda jangan menyangka bahwa mencintai sesuatu yang cantik itu tidak tergambar selain karena memenuhi nafsu syahwat. Bahwa memenuhi nafsu syahwat itu suatu kelezatan yang lain yang kadang-kadang rupa yang cantik itu dicintai karena rupa yang cantik itu sendiri. Mengetahui kecantikan itu juga suatu kelezatan. Maka bolehlah bahwa kecantikan itu dicintai karena kecantikan itu sendiri.

Adalah رسول الله SAW itu tertakjubkan oleh sayuran dan air yang mengalir. Tabi’at yang sehat itu terpenuhi, dengan kelezatan memandang kepada cahaya, bunga-bungaan dan burung-burung yang indah warnanya, ukiran yang bagus, yang bersesuaian bentuknya, sehingga manusia itu menjadi lega dari kegundahan dan kesusahan dengan